Powered by Blogger.

About Me

  • About Me

ayudyahrara's blog

Setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Terkadang ada seseorang yang begitu baik, sopan, santun, ramah kepada semuanya dan hal selanjutnya yang terjadi adalah baper. Please, telling the truth. Apakah kamu pernah merasakan seperti itu?
Let me say, baper adalah sebuah kata yang menjadi trend saat ini atau bisa disebut juga sebagai kata "kegeeran". Disisi lain pun, yang selalu baik kepada semua orang, just say this: kamu harus tegas.
Tapi apakah salah apabila kita baik kepada semua orang? Jelas tidak. Yang salah adalah bagaimana menempatkanmu berbicara dengan sesama jenis atau lawan jenis. Sesuai aturan keyakinan kalianlah itu yang terbaik.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Seperti apa yang sudah dideklarasikan dan ditetapkan oleh tim KPU pusat bahwa presiden Negara Republik Indonesia yang terpilih hasil Real Qount adalah sebagai Presiden Bapak Ir.Jokowi Dodo dan Wakil Presiden Bapak Drs. H. M Jusuf Kalla.

Pertama-tama untuk mengucapkan banyak terimakasih kepada Rakyat Indonesia yang telah memilih dalam Pemilu pilpres untuk jangka waktu lima tahun kedepan. Walaupun sesungguhnya, penulis sebagai mahasiswa rantauan yang mengalami golput akibat terjadinya kecelakaan dan kesalahan informasi yang berada di wilayah rantauan. Namun yang mengalami kendala tersebut, bukan satu atau dua orang dan dapat dikatakan sebagian besar perantau mengalami penyumbang banyak golput.

Apa yang dikatakan Bapak Ir. Jokowi Dodo benar sekali bahwa sekarang bukan saatnya nomor 1 atau nomor 2 lagi ataupun bukan saatnya salam 1 jari atau 2 jari lagi namun sekarang salam 3 jari yang menyebutkan "PERSATUAN INDONESIA". Dapat diartikan, dari pemilihan presiden ini, tidaklah menyebabkan pemecah belah antara kedua belah pihak, dan sebenarnya bukan soal kalah dan menang. Tapi saat ini adalah soal bagaimana kita semua -baik dalam pemerintah maupun rakyat untuk sama sama membangun bangsa Indonesia serta memperbaiki agar lebih baik dan semakin baik.

Oleh karena itu, yang sebelumnya kita telah berpesta demokrasi sekarang tiba saatnya berjuang demokrasi. Tanamkanlah jiwa nasionalisme untuk Negeri ini. Sesungguhnyalah tanah air Indonesia sangatlah kaya. Jangan sampai kalah oleh rasa malas yang mengakibatkan berpindah tangan untuk kemajuan tetangga. Ubahlah pikiran, satukan do'a, dan luruskan niat.

Salam indah untuk Negeri tercinta Indonesia dariku, 



drap
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Kepiawaian para "peminta"


                Lelahnya menjadi pegawai negri sipil kawan. Sedikit bercerita mengenai kejujuran dan kemunafikan yang terjadi disekitar. Kalian tau betapa amarahnya terjadi apabila terdapat sekelompok orang yang bersikeras mengkambinghitamkan kedua belah pihak?
                Terdapat dua orang yang berencana akan menuliskan sebuah buku mengenai tokoh daerahnya salah satu penulisnya adalah seorang pegawai negri sipil (pejabat daerah setempat). Alhasil rencana itu terlaksana dan buku diterbitkan melalui seorang bapak penerbit buku di salah satu daerahnya. Dengan kejujuran dan bangga nya menampilkan dan telah mencetak beratus buku yang dijadikan sebagai buku yang mendeskripsikan tokoh daerahnya.
                Suatu ketika terdapat sekelompok orang mendatangi bapak penerbit, sekelompok orang tersebut menceritakan keadaan yang telah disampaikan oleh seorang penulis. Yang katanya menggunakan dana untuk mencetak beratus buku alias bagi hasil. Sekelompok orang itu meminta bagiannya yang padahal sekelompok orang tersebut tidak ikut andil dalam pembuatan buku mengenai tokoh daerah tersebut. Apabila tidak diberikan uang, sekelompok orang itu akan mempublikasikan kejadian tersebut yang biasa terkenal “melebih-lebihkan” berita. Sorenya sekelompok orang tersebut mendatangi salah satu penulis buku, mereka menyebutkan serta menceritakan keadaan yang disampaikan oleh bapak penerbit buku yang katanya telah bagi hasil dengan tujuan sekelompok orang ingin meminta bagiannya.
                Bagaimana pendapat kalian?
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
PNS vs MASYARAKAT


                Kali ini berbicara mengenai masyarakat Indonesia dan pegawai negri sipil. Seringkali medengar, melihat, dan membaca celotehan yang berbentuk cemoohan masyarakat Indonesia mengenai pejabat Negara. Right?
                Mereka membicarakan betapa buruknya para pejabat negara yang hanya memikirkan diri sendiri. Mereka membicarakan betapa kejamnya para pejabat negara yang dimata mereka selalu terbayang dengan kata korupsi. Padahal sesungguhnya, hanya beberapa pejabat negara dari berjuta pejabat yang melakukan tindakan buruk seperti korupsi.
                Masyarakat indonesia memang memiliki Hak Asasi. Hak yang berhak digunakan untuk berkomentar mengenai Negara dan seluruh isinya. Tetapi apabila masyarakat yang tidak pernah mengikuti kewajibannya sebagai warga negara indonesia seperti PEMILU, PILKADA maka masyarakat tersebut tidak berhak berkomentar. Karena apa? Masyarakat yang tidak memilih, masyarakat yang tidak mengerjakan kewajiban sebagai warga negara memang pantas tidak berhak berkomentar. Masyarakat tersebut hanya mencemoohkan apa yang tidak mereka lakukan sebelumnya, apa yang tidak mereka kerjakan sebagai warga negara. Jadi masyarakat yang berkomentar tetapi tidak pernah melaksanakan kewajiban sebagai warga negara sudah sepantasnya dan menerima apa adanya negara indonesia yang diakibatkan ulahnya masing-masing.
                Apabila berbicara mengenai pejabat negara, menjadi pegawai negri sipil pun melakukan tahapnya yang dapat dikatakan dari angka nol. Dari mereka di test ujian seperti test CPNS, lalu menjadi staff, apabila akan naik pangkat seseorang itu harus menyelesaikan studinya atau dapat dikatakan sekolah kembali yang berstatus pegawai negri sipil. Terkadang masyarakat mencemoohkan hasil kerja dari para pegawai negri sipil serta pejabat daerahnya, padahal masyarakat itu hanya menggunakan sarana dan prasarananya tanpa harus mengendalikan operasi serta prosesnya. Sebenarnya petinggi negara telah membagi sesuai bidang yang beragam agar Negara Indonesia dapat terpelihara. Apabila akan mencemoohkan serta berkomentar seharusnya jelas asal usul dan bagaimana dengan keadaan seperti apa yang terjadi. Bukan hanya berceloteh tetapi tidak mengerti bagaimana cara melaksanakannya.
                Apabila masyarakat tidak menginginkan petinggi negara yang tidak sesuai keinginan, makadari itu laksanakan dahulu kewajiban serta tanggung jawab sebagai masyarakat Indonesia, setelah itu instropeksi terhadap diri sendiri dan mengapa bisa terjadi baik dan buruknya, selanjutnya apabila akan berkomentar sebaiknya dilakukan dengan bermusyawarah ataupun menyampaikannya kepada yang berhak.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Categories

  • Catatan
  • Cerpen dan Essay
  • opini
  • Student Exchange

Visitor

Follow Us

  • instagram
  • youtube
  • cookpad

Blog Archive

  • June 2018 (1)
  • February 2017 (8)
  • December 2015 (1)
  • April 2015 (5)
  • November 2014 (1)
  • July 2014 (3)
  • May 2014 (1)
  • February 2014 (2)

Postingan Populer

  • FEELING KOREA (UNPAS-Chonbuk National University)
  • Jangan salahkan, cinta.
  • #CERPEN1 BELENGGU (2012)
  • Mentari yang bersinar di bulan MEI
  • Untukku
  • #ESSAY2 Kehidupan Bersuara (2013)
  • I Think #4
  • Surat Cinta Untuk Calon Suamiku

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates