Powered by Blogger.

About Me

  • About Me

ayudyahrara's blog

          Siang itu gersangnya matahari telah menempati titik puncak yang memanggang sebuah gedung sekolah menengah atas. Terkadang para siswa-siswi pun tak kunjung beranjak dari sekolah menengah atas ini setelah bel pulang dikarenakan berbagai macam alasan, ada yang mengikuti ekstrakulikulerlah, ada juga yang memang berniat bermain disekolah terlebih dahulu dan ada juga yang tengah asyik bermain jaring situs sosial semacam facebook, twitter, plurk dan semacamnya.
         Diantara berbagai makhluk hidup yang terkumpul didalam gedung sekolah tersebut ada seorang cewe yang tengah asyik meminum soft drink nya. Adalah cewe berpakaian putih abu seperti siswa-siswi lainnya adalah Lura yang dikenal karena kepandaian dan kepintarannya. Cewek ini memiliki berat badan sekitar 42 sampai dengan 45-an, sedangkan tingginya Cuma 156 (mungkin). Rambutnya cukup panjang terurai rapih. Dan hoby dia hanya satu ialah membaca buku.
            Saat ini ia menduduki kelas XII pada Sekolah Menengah Atas favorit di kotanya. Detik-detik menjelang Ujian Nasional iya sangat rajin dan bersemangat dalam hal belajar dan mengikuti bimbel-bimbel yang berada di kota tersebut.
            Pada hari Ujian Nasional tiba, ia merasa optimis dengan yang ia kerjakan dari soal yang paling mudah hingga yang tersulit. Wajahnya selalu tersenyum karena ia sangat yakin akan lulus pada kelulusan nanti. Hingga hari terakhir tiba, ia tak merasa takut dengan yang ia kerjakan. Ia tetap mengerjakan dengan rasa optimis dan tanpa meragukan adanya kesalahan dalam lembar kerja jawabannya.
            Pengumuman kelulusan akan diumumkan dua bulan setelah Ujian Nasional. Lura tak merasa khawatir dan cemas dengan melihat hasil yang ia dapatkan. Dan teman-teman Lura pun yakin bahwa Luralah yang mendapat peringkat pertama pada kelulusan Ujian Nasional itu.
            Dua bulan telah berlalu dan pengumuman kelulusan akan segera ditampilkan di mading sekolahnya masing-masing. Dan yang terjadi sepertinya tak diduga. Lura tak lulus dalam Ujian Nasional. Lura merasa ada kejanggalan dalam nilai yang ia dapatkan. Ia langsung bertanya-tanya kepada Guru BP yang selalu memberi solusi yang terbaik untuk murid-muridnya. Ternyata semua itu adalah kesalahan Lura yang tidak teliti dengan mengerjakan soal Ujian Nasionalnya.
            Kini Lura yang sekarang tak sama dengan Lura yang dulu. Lura kini menjadi sesosok yang pendiam, tertutup dan malas belajar. Orangtua Lura pun taktahu harus berbuat apalagi agar Lura tidak seperti ini. Sahabat-sahabat yang terus menyemangati Lura tapi tak ada perubahan terhadap kondisi dan sikap Lura saat ini.
            Tapi pada akhirnya, Lura menyadari dengan yang ia lakukan saat ini. Bahwa dia akan lebih berhati-hati dalam sesuatu yang ia akan hadapi. Ia tidak akan menyia-nyiakan sebuah kesempatan untuk masa depan yang akan ia raih. Ia yakin bahwa jika kita bekerja keras dan teliti dalam mengerjakan sesuatu hal maka kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
             Matahari menghantarkan energinya dalam jutaan kegundahan. Dalam canda dan tawa memainkan rerumputan nan hijau memukau. Menelusuri rangkaian urat nadi yang menggetarkan lara. Membasmi parasit yang menghantam bumi pertiwi. Dalam sebuah gedung sekolah, ku berbaring menatap langit-langit. Terlihat biru namun bukan gambaran tiga dimensi selayaknya nyata. Seperti bahasan nyata, diperbesar lalu terbalik pembelajaran fisika yang baru ku pelajari.
            Petikan gitar membawa keselarasan untuk menyambut datangnya hujan. Bernyanyi layaknya sang diva sekolah. Berteriak sesuka layaknya tarzan kota. Dan bercanda gurau menghapus kegundahan dalam detik kujalani. Sekolah merupakan tempat tinggalku yang kedua, dimana aku dapat merasakan kegembiraan, kesedihan dan perjuangan untuk mendapatkan sebuah ilmu.
            Bertubuh tinggi, mudah bergaul dan pandai bernyanyi. Itulah julukan bagiku. Kenanga Dewi Anugrah.
            “Happy Birhtday Nana. Happy Birthday Nana. Happy Birthday Happy Birthday Happy Birthday Nana...”
            Nana, begitulah mereka memanggilku.
            “Make a wish nya jangan lupa Na” Cheryl memberikan kue ulangtahunnya.
            Tanpa ku mengucap kata pun, mereka telah mengerti apa mauku. Oleh karena itulah kupanggil mereka sahabat. Beribu rasa terimakasih dalam usia enambelas tahunku ini, aku memiliki teman-teman yang menyayangiku, keluarga yang selalu disampingku dan terutama atas segala Anugerah dari-Mu.
            Malamnya ketika kebahagiaan terasa sangat jelas terucap, notebook itu menggodaku untuk digunakan. Ku berlari menghampiri, dengan rasa bahagia dan lelahnya hari ini. “Kejutan yang tak akan pernah aku lupakan” sahutku pada miror itu.
            Tertuju pada jejaring sosial yang sedang marak dalam perubahan jaman ini. Masuk dan bermain. Dan tentunya yang sering kalian ketahui, bernama Facebook. Pertemanan yang cukup banyak membuat pemberitahuan sangat amat banyak memasuki dinding halamanku. Dalam salah satu pesan yang diberikan, kulihat namanya. Dia bernama Fajar. Fajar Saputra. ‘Aku mengetahuinya’ gumamku.
            Entah dengan alasan apa keseriusanku untuk mengetahui seluk beluk Fajar. Aku mulai membuka akun facebooknya, memerhatikannya di sekolah dan terlihat jelas ketika sebuah pesan singkat datang menghampiriku yang benar saja pesan singkat itu bertuliskan pengirim dengan nama Fajar.
            Tak disangka, pembicaraan mengenai Fajar terlalu mudah untuk diperbincangkan. Menjadi topik terhangat dan menjadi gurauan para remaja. Fajar dikenal sebagai lelaki yang mudah dekat dengan wanita. Teman-temanku saja ketika mengetahui aku dekat dengan Fajar, tak suka setengah mati. Mereka terus membujukku untuk tidak dekat dengan Fajar karena menurut mereka Fajar tak baik untukku.
            “hey Na, serius lo mau pacaran sama Wisnu?” tanya salah satu sahabatku yang bernama Maudi.
            “Gue.....” jawabku tegas.
            “Lo gak pernah mikir konsekuensinya ya Na?” saran temanku yang sedari tadi acuh tak acuh dalam pembicaraan ini.
            “Harus nunjukin apa lagi kekalian buat ngebuktiin kalau gua bener-bener serius!”
            Saran-saran, komentar dan cemoohan ku dapatkan. Selalu mengusap dada, membiarkan hati ini menyadari kesungguhanku. Selagi janur kuning belum melengkung kita masih bebas untuk memilih siapapun untuk menjadi pasanagan hidup kita, itulah saran yang kudapatkan melalui bait lagu yang terdengar manis.
            Siang itu, ketika cahaya tertutup oleh pancaran yang tak bisa dibiaskan. Sepertinya akan ada pertemuan yang tak biasa. Fajar mengirim sebuah pesan singkat yang berisi bahwa dia akan mengajaknya untuk pulang bersama. Sungguh, kata tak terucap. Bisu untuk berucap. Hanya kegundahan mengusik isi hati. Getaran yang semakin kencang, layaknya angin topan mendera bumi berputar.
            Perjalanan dari sekolah menuju rumahku terasa sekejap. Hingga ku menyalahkan waktu yang berlalu begitu cepat. Sebenarnya ketika perjalanan berlangsung dan dalam diam itu, dia dapat memecahkan kesunyian. Hingga kebahagiaan terucap pada bulan Maret 2012 itu. Sesampainya di halaman rumahku, rasanya tak ingin kujatuhkan tubuhku pada ubin ini.
            “Boleh aku berbicara sebentar Nana?”
            “Apapun silahkan” jawabku terbata-bata dalam melafalkan bacaannya.
            “Maukah kamu menjadi salah satu bagian dari hidupku? Yang akan berpasangan dengan tulang rusuk ini? Yang akan selalu berbagi canda dan tawa, kesedihan dan perjuangan hidup?”
            Sepertinya sebelum aku berucap kata ‘Ya’ atau ‘Tidak’, hati ini sudah dengan cepat membalasnya. Ternyata degup jantung ini tak bisa dihindari, semakin hari semakin kuat. Rasanya ingin berteriak sekeras yang aku bisa untuk mengungkapkan rasa bahagia. Dan tanpa ragu pun aku menjawabnya “Ya, aku mau”.
            Waktu terus bergulir. Hingga sang fajar kembali bersama embun pagi. Disambut burung-burung yang bersiul indah dan cahaya matahari yang semakin terpancar. Kembali kepada cerita cinta, saat itulah cerita baru dimulai dengan melalui kebahagiaan. Terjalin terlihat manis. Terjalin terlihat indah. Terjalin dalam dekapan naungan-Mu, dan semakin ku meyakini bahwa aku akan membuktikan pada sahabatku semuanya bahwa Fajar tak seperti yang mereka bayangkan.
            Delapan bulan pun berlalu. Dalam delapan bulan ini, Fajar menghantarkanku pada jalan yang berliku. Melewati berbagai polemik kehidupan, menciptakan sebuah tangis dan tawa, dan memberikan ketulusan, keikhlasan dan juga kebahagiaan.
Hari silih berganti. Siang berganti malam. Dan dalam sebuah percakapan yang terjalin biasa, sahabat-sahabatku mulai menyadari adanya kebahagiaan yang nyata. Setelah dipikir ulang, untuk apa selalu bermusuhan. Melalui pertemanan pun berbagai cerita akan terus kujalani.
Aku sengaja tak membalas pesan singkat Fajar. Dengan alasan yang sesungguhnya adalah saldo yang tidak mencukupi untuk mengirimkan sebuah pesan lagi. Namun aku tergoda pada sebuah jaringan sesosial yang mematung dan memintaku untuk memainkannya. Dibukanya handphone mamah –ku itu, lalu ku memainkannya.
Dalam suatu hari yang tergambar pada siang hari, dalam suatu tempat yang terhalang oleh waktu dan dalam sebuah pesan singkat yang terucap kata menyakitkan, Break.
“Maaf Nana, untuk saat ini aku ingin break dahulu” ajak Fajar sesuka hatinya.
“kenapa harus seperti ini?” tanyaku penuh emosi.
“Yang terpenting kita belum putus kan?” dengan nada santainya.
Sudah dapat diartikan walau tak harus mengucapkan dengan beribu macam alasan. Dia tak menyayangiku kembali, dia tak menyadari adanya diriku dan dia berpaling karena ada wanita lain. Ya, wanita lain. Dia bernama Fazidya yang dikata teman sekelasnya itu.
Rumor yang beredar saat Fajar berpacaran dengan yang lain. Maka dari itu, tegaslah dalam berprilaku sebelum semuanya berakhir dengan sia-sia.
Sudah memakan waktu tiga minggu untuk menghabiskan waktu diamku dan diam Fajar. Aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. Walau dalam pembicaraan itu terdapat candaan yang seharusnya tak dilakukan olehku dan juga olehnya.

Indah selama delapan bulan berlalu dengan tangis dan tawa. Dalam delapan bulan itu, aku menggantungkan harapku pada lelaki itu. Dalam delapan bulan itu, aku membiarkannya untuk menguasai isi hatiku. Dan berakhir dalam delapan bulan ini. Namun Fajar berkata padaku, kita masih berteman dan itu tak akan pernah berakhir J



Hallo! Ini #CERPEN1 berjudul "Belenggu".
Nemu cerpen di folder lama dan dibuat pada tahun 2012. Semoga bermanfaat dan terus berkarya!
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
안 녕 하 세 요.
저는 Rara 입니다.
저는 인도네시아 사람입나다.
만나서 반갑습니다.

Rara's wearing Hanbook in Hanook Village


Welcome to my story #2016.
Tanggal 8 Mei 2016-19 Mei 2016 adalah student exchange saya dengan teman-teman ke Universitas di Korea Selatan. Universitas tersebut bernama Chonbuk National University. Kenapa sih bisa ikutan student exchange? Apa aja yang dilakuin disana? Menggunakan bahasa apakah? Ada syarat tertentukah? Bagaimana rasanya tinggal disana? Ok, let me explain all about my story student exchange di CBNU ya 👩


Batu Chonbuk National University (near our dorm)

Unpas with Mr. Choi


Untuk informasi beasiswa apapun sebenarnya bukan kita yang menunggu, tetapi mencari informasi mengenai beasiswa tersebut. Seems like this, informasi mengenai pertukaran mahasiswa. Setelah mengikuti persyaratan yang diajukan, akhirnya saya bisa mengikuti exchange program pada bulan Mei. Dan sebenarnya, program ini adalah program pertama kalinya yang berada di Universitas Pasundan. Dalam exchange program kali ini dari berbagai jurusan dan angkatan berjumlah 15 orang dan yang mendampingi Pak Dadang selaku Humas Unpas, Pak Jaja dan Pak Deden dari perwakilan Rektorat.

Well, lanjut mengenai bahasa. Sangat jujur bahasa inggris saya mungkin sangat jauh dari kalian yang bisa nyorocos sangat bagus. Dengan kemampuan sedikit berbahasa inggris dan percaya diri serta kamus dalam handphone akhirnya percakapan saya dengan mahasiswa disana pun lancar-lancar saja sejauh ini. Selain itu, bahasa korea pun sebenarnya wajib kita ketahui karena pada tempat umum, perbelanjaan, tempat makan jarang sekali yang bisa berbahasa inggris. Jika tidak bisa berkomunikasi melalui visual, akhirnya bahasa isyarat pun tercipta.

Selama hampir 12 hari, jadwal sudah diatur oleh pihak kampus.Untuk weekday pukul 09:00-12:00 dipergunakan untuk belajar bahasa korea, 14:00-16:00 dipergunakan untuk mempelajari budaya korea. Dan weekend untuk jalan-jalan bersama.

Cuaca korea pada saat itu tepatnya di Jeonju sangat dingin, berkisar 10 derajat celcius hingga 20 derajat celcius. Untuk kesehariannya akan saya ceritakan. Subuh waktu Jeonju pada pukul 03:30, magrib waktu Jeonju pada pukul 20:00. Artinya waktu malam hari lebih sedikit dibandingkan siang hari. Seperti baru terlelap di tempat tidur namun ayam langsung berkokok. Dengan dormitory yang sangat nyaman, segala aktivitas pun semangat untuk dikerjakan. Dalam dormitory khusus dosen dan tamu disediakan 2 tipe kamar, 1 orang/kamar atau 2 orang/kamar. Saya memilih untuk 2 orang/kamar yaitu bersama Teh Iis (Teh; read: Kakak perempuan). Fasilitas didalam kamar yaitu tempat tidur, meja belajar, lemari, kamar mandi, dapur, tempat sepatu, dan pendingin/pemanas ruangan.


Dorm Part1
Dorm Part3
Dorm Part2

Berbicara mengenai fasilitas lagi, setiap sarapan, makan siang, dan makan malam sudah satu paket dengan asrama. Fyi, setiap gedung asrama memiliki cafetaria masing-masing. Menu makanan pun dijaga kalori dan kesehatannya jadi tak perlu khawatir dengan perut kosong karena sudah disediakan oleh pihak kampus untuk seluruh mahasiswa CBNU. Lanjut mengenai program pembelajaran bahasa korea di gedung bahasa. Setiap harinya kita berjalan kaki menuju gedung tersebut kira-kira 5-10 menit dengan jalan kaki ala orang Indonesia (alias lambat).

Untuk belajar bahasa korea, dengan sistem pembelajaran yang tidak membosankan membuat saya cepat dalam mempelajari bahasanya. Oh ya, biasanya didalam gedung terdapat banyak machine coffe or drink, jadi tak perlu khawatir untuk merasa kehausan. Dalam satu kampusnya pun terdapat banyak minimarket dan penjual makanan sehingga lingkup perkuliahan sangatlah mendukung.

Belajar budaya korea seperti dying, menari, membuat kipas sederhana, serta menggunakan hanbook merupakan hal wajib kita coba selama di Negeri orang disamping menambah pengetahuan budaya kita ya. Namun jangan salah, kami semua menampilkan tari tradisional khas Indonesia yaitu jaipong pada saat pembukaan acara pertukaran mahasiswa ini. Rasanya sangat bahagia bisa menari dan menampilkan budaya Indonesia di Negri orang. Semoga kalian pun bisa merasakannya yah!


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Newer Posts
Older Posts

Categories

  • Catatan
  • Cerpen dan Essay
  • opini
  • Student Exchange

Visitor

Follow Us

  • instagram
  • youtube
  • cookpad

Blog Archive

  • June 2018 (1)
  • February 2017 (8)
  • December 2015 (1)
  • April 2015 (5)
  • November 2014 (1)
  • July 2014 (3)
  • May 2014 (1)
  • February 2014 (2)

Postingan Populer

  • FEELING KOREA (UNPAS-Chonbuk National University)
  • Jangan salahkan, cinta.
  • #CERPEN1 BELENGGU (2012)
  • Mentari yang bersinar di bulan MEI
  • Untukku
  • #ESSAY2 Kehidupan Bersuara (2013)
  • I Think #4
  • Surat Cinta Untuk Calon Suamiku

Followers

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates